Showing posts with label Budidaya Kopi. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Kopi. Show all posts

Saturday, July 2, 2016

Usia Ideal Tanaman Kopi Produktif

TEMPO.CO, Jakarta -Menurut Ucu Sumirat, peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) atau Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI) yang selama ini banyak melakukan kegiatan penelitian di Lampung, usia ideal tanaman kopi yang produktif, yakni,  5 tahun sampai 20 tahun.

Tanaman kopi dapat disebut tua jika telah melewati usia 20 tahun. Kenyataannya, pada perkebunan-perkebunan kopi rakyat di Indonesia sangat mudah menemukan tanaman kopi berusia hingga 30 tahun.

Usia Ideal Tanaman Kopi Produktif
Usia Ideal Tanaman Kopi Produktif, Iklim Indonesia Pengaruhi Khas Kopi Kualitas Dunia

Pohon kopi yang tua dapat terlihat dari bentuk atau morfologi tanamannya. Bentuk batangnya lebih besar dan cenderung keropos; tidak optimal lagi untuk menopang produktifitas buah.

Selain itu, akar tanaman kopi yang sudah tua tidak optimal untuk menyerap bahan makanan. "Oleh karena itu produktifitasnya lebih rendah sekitar 30 persen  dibandingkan tanaman kopi yang muda-muda," jelas Pujiyanto, peneliti senior Puslitkoka.

Sebagai lembaga penelitian kopi di Indonesia yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, Puslitkoka melakukan pengamatan bahwa dampak penurunan produktifitas akibat populasi tanaman kopi tua salah satunya terjadi di Lampung. Provinsi ini tercatat pada Ditjen Perkebunan sebagai produsen kopi terbesar nomor dua di Indonesia, setelah Sumatera Utara. Luas areal perkebunan kopi di Lampung mencapai 163,179 hektar, dengan rata-rata produksi sebesar 1 ton per hektar.

Pujiyanto memberi ilustrasi,  rata-rata populasi tanaman kopi di lampung adalah 2000 pohon per hektar. Lewat acuan itu diperkirakan populasi tanaman kopi di Lampung, mencapai 326 juta pohon. Diperkirakan 50 persen dari total lahan kopi di Lampung merupakan lahan turun temurun dengan usia pengelolaan rata-rata lebih dari 20 tahun. "Dari ilustrasi itu, kira-kira populasi tanaman kopi yang tidak produktif di Lampung mencapai 160 juta pohon," papar Pujiyanto.

Potensi produktifitas yang hilang akibat tanaman-tanaman kopi tua di Lampung itu, menurut Teguh Wahyudi, Direktur Puslitkoka mencapai 50 persen. Itu baru di Lampung. Belum lagi di daerah- daerah penghasil kopi lainnya seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan lain-lain.

Sebagai catatan, fenomena tanaman kopi tua tidak hanya khas Lampung. Data USDA menyebutkan bahwa populasi tanaman kopi tua di Indonesia mencapai 30 persen dari total populasi tanaman kopi di tanah air.

Jika persoalan ini tidak segera diatasi, penurunan reputasi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar ketiga di dunia hanya tinggal menunggu waktu. Produksi berkurang, penghasilan petani berkurang, ekspor berkurang, dan devisa negara berkurang.

Perlu kerjasama dan perhatian berbagai pihak mulai dari pemerintah, pihak swasta, pengusaha dan para petani yang memegang peranan langsung dalam mata rantai produksi dan bisnis kopi.
Read More

Friday, June 10, 2016

Cara Bercocok Tanam Kopi

A. Tentang Kopi

Tanaman yang termasuk Genus Coffea dari Famili Rubiaceae ini adalah salah satu dari tiga bahan minuman yang non alkoholik. Adapun tiga minuman tersebut adalah; Kopi, Teh, dan Coklat.

Produksi kopi dunia semenjak abad ke-20 hingga sekarang ini telah meningkat menjadi 5 kali lipat. Adapun benua-benua yang menjadi penghasil kopi terbesar di dunia ini adalah benua Amerika yang terdiri dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Kemudian Afrika dan disusul Benua Asia.

Menurut statistik yang dibuat pada tahun 1968, prosentase dari benua-benua penghasil kopi dunia adalah sebagai berikut:
1.      Amerika Selatan sebesar 48 persen;
2.      Amerika Tengah sebesar 16 persen;
3.      Afrika sebesar 29 persen;
4.      Asia sebesar 7 persen.

Kemudian kalau diperinci per negara-negaranya akan diketahui seperti ini, untuk Benua Amerika yang paling menonjol adalah Brasilia dan Columbia. Untuk Benua Afrika, negara-negaranya rata-rata hampir sama dalam produksi kopinya, kemudian produsen kopi dari Benua Asia adalah Indonesia, India dan Philipina.


Sedangkan dari Indonesia sendiri, produksinya kurang lebih hanya 3 sampai 4 persen dari produksi dunia. Sedangkan kebanyakan kopi yang ditanam di Indonesia adalah kopi dari jenis robusta dan sedikit yang dari jenis Arabika.

Perlu juga diketahui bahwa produksi dunia saat ini, boleh dikatakan bahwa 80 persen terdiri dari jenis kopi arabika dan 20 persen dari jenis kopi robusta.

Sebenarnya memang ada lagi jenis kopi Liberika, akan tetapi jenis ini sekarang tidak lagi banyak ditanam orang karena banyak mengandung rasa asam hingga tidak begitu disukai.

B. Asal-usul Kopi

Kopi ini termasuk dalam Genus Coffea dari Famili Rubiaceae, kini kopi yang banyak ditanam di Indonesia adalah jenis Arabika dan robusta. Akan tetapi sebenarnya kedua jenis kopi yang ditanam itu bukanlah merupakan tanaman asli Indonesia. Asal dari kopi tersebut adalah dari Benua Afrika. Di Indonesia pada abad 18 dan 19, pernah ditanam kopi jenis Liberika, akan tetapi sekarang, semenjak abad ke-20 kebanyakan kopi yang ditanam di Indonesia adalah jenis Kopi Robusta dan sebagian jenis Kopi Arabika.

Sebenarnya jenis kopi yang pertama dimasukkan ke Indonesia adalah jenis kopi arabika. Kopi jenis tersebut masuk Indonesia pada tahun 1696, akan tetapi tanaman itu lalu mati karena terserang banjir yang melanda dengan hebat.

Kemudian pada tahun 1699 kembali didatangkan bibit-bibit arabika yang baru. Untuk pertama kalinya ditanam di sekitar Jakarta dan Jawa Barat. Setelah berhasil baik lalu disebarkan keseluruh kepulauan Indonesia.

Satu abad lebih jenis kopi ini telah membudaya menjadi tanaman rakyat. Sedangkan fihak perkebunan sendiri telah mengusahakan kopi tersebut di daerah semarang dan Kedu Jawa Tengah. Dengan keberhasilannya ini, maka pada akhir abad 19 juga dibuka perkebunan kopi di Jawa Timur. Kebun itu terletak di Malang dan Kediri. Setelah itu menjalar lagi sampai daerah Besuki.

Bolehlah dikatakan untuk tahun-tahun 1800 sampai 1900 lebih jenis kopi komersiil yang ditanam adalah jenis Arabika. Jenis kopi lain masih kalah jauh bila dibanding dengan jenis kopi Arabika.


Gambar 1: Pohon Kopi Jenis Arabika, Daunnya Lebar

Gambar 2: Pohon Kopi Jenis Robusta
Namun kemudia terjadi tragedi yang sangat memukul perkebunan kopi. Tiba-tiba saja datang serangan penyakit Hemileia Vastatrik atau penyakit karat daun.


Dengan adanya serangan penyakit ini maka kopi-kopi jenis arabika hanyalah kuat bertahan di daeah-daerah tinggi, yang lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut (dpl). Sebab di daerah-daerah tinggi itu serangan penyakit tersebut tidaklah begitu hebat. Akibatnya maka produksi Arabika menjadi mundur dan menurun drastis.

Sedangkan jenis kopi Liberika dimasukkan ke Indonesia ini sejak tahun 1875. Pemasukan kopi jenis liberika ini adalah salah satu usaha untuk mengatasi penyakit karat daun. Dengan harapan jenis ini akan lebih kuat dibandingkan dengan jenis arabika dalam serangan penyakit karat daun.

Namun ternyata jenis ini pun tidak banyak bedanya dengan jenis arabika. Mudah pula diserang oleh penyakit karat daun. Dan lagi jenis ini kurang disukai oleh masyarakat sebab rasanya terlalu asam. Dengan demikian maka jenis kopi ini lalu tidak ditanam lagi oleh masyarakat. Mungkin kini sisa-sisanya ada beberapa di daeah-daerah tertentu saja.

Kopi robusta mulai masuk di Indonesia pada tahun 1900. Setelah diadakan penyelidikan dan percobaan-percobaan oleh para ahli pertanian dan perkebunan, maka mulai ditanam jenis kopi robusta. Ternyata memang jenis ini dapat tahan dengan penyakit karat daun.

Selain kuat terhadap serangan penyakit karat daun, jenis kopi ini juga memerlukan persyaratan tumbuh yang lebih ringan bila dibandingkan dengan jenis kopi arabika, dan yang lebih penting dan menggembirakan lagi produksinya jauh lebih tinggi.

Gambar 3: Penyakit Karat pada Daun Kopi Arabika
Dengan adanya keuntungan-keuntungan itulah maka jenis ini cepat berkembang dan mendesak jenis-jenis kopi lainnya. Sampailah saat ini bila diperkirakan 95 persen dari areal perkebunan kopi di Indonesia terdiri dari jenis Robusta.

Seperti telah diterangkan diatas kalau jenis kopi Arabika ini hanya dapat tumbuh di daerah yang ketinggiannya lebih dari 1000m dpl. Sedangkan untuk jenis robusta bisa tumbuh di daerah yang ketinggiannya 100 meter sampai dengan 750 meter dpl. Maka dengan demikian terjadilah zonal gap yang berarti ada zona dengan jarak vertikal 200 meter sampai 250 meter yang tidak bisa ditanam kopi. Untuk menutup gap ini, maka telah diadakan penelitian yang kemudian pada tahun 1929 dimasukkanlah veritas Abyssinica (Coffea Arabica Veritas Abyssinica) sedangkan yang telah ada di Indonesia adalah Arbika yang termasuk Coffea Arabica Veritas Typica.

Kemudian pada tahun 1955/1956, dapatlah dipilih dan setelah melalui proses penelitian serta penyelidikan dan ujian-ujian buat pohon kopi jenis tersebut, ternyata jenis kopi Arabika veritas Abyssinica yang berasal dari India dapat tahan dari serangan karat daun.

Selain kuat terhadap serangan karat daun, jenis Arabika Abyssinica ini dapat tumbuh di daerah yang tingginya 500meter dpl. Dengan ditemukannya kopi jenis ini, maka tidak ada lagi gap daerah untuk tanaman kopi. Hingga dengan demikian maka bisa saja daerah-daerah dataran rendah ditanami Robusta dan dataran tinggi ditanami kopi jenis Arabika.

Di Indonesia, daerah-daerah yang menanam jenis Kopi Arabika adalah Jawa Timur; Sumatera Utara; Aceh; Bali; dan Sulawesi Selatan.

Namun sayang sekali, semenjak perang dunia II, produksi kopi menurun dengan drastis. Akan tetapi untunglah sekarang setelah mendapat perhatian dan penanaman yang lebih intensif lagi, maka kita telah dapat menaikkan produksi.

Sejak awal tahun 1970-an, orang akan dapat memetik kopi dengan hasil rata-rata diatas 10 kwintal per  Hektarnya. Bahkan banyak daerah yang bisa menghasilkan lebih dari 15 kwintal untuk setiap hektar.

Gambar 4: Perkebunan Kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo, Aceh
Untuk penghasilan kopi ini, memang Indonesia sendiri belum banyak bicara. Sebab hasil produksi kopi Indonesia hanyalah sekitar 3 sampai 4 persen saja dari kebutuhan dunia. Namun walaupun demikian, berarti kita telah pula cukup bangga, sebab kita telah dapat menutupi kebutuhan kopi buat dalam negeri sendiri. Kemudian untuk kawasan Asia, produsen kopi yang terpenting adalah Indonesia, India dan juga Philipina.

Seperti juga kebanyakan yang ditanam, maka hasil kebanyakan dari kopi kita adalah dari jenis Robusta, serta satu hal lagi yang juga cukup menguntungkan bagi kita, bahwa kita telah jaran atau tidak lagi menanm jenis kopi Liberika. Karena pasaran duniapun tak begitu suka dengan jenis kopi yang mempunyai rasa terlalu masam.

Perkebunan-perkebunan kopi di Indonesia ini sekarang yang banayk adalah di daerah-daerah luar Pulau Jawa. Sebab memang di sana masih cukup banyak areal yang mempunyai suhu serta iklim yang baik. Sementara di Jawa pun banyak bermunculan para penanam kopi.
Read More

Tuesday, April 8, 2014

Pengolahan Biji Kopi

Buah kopi ini masak biasanya pada bulan-bulan April/ Mei sampai bulan September/ Oktober. Untuk distribusi daerah-daerah basah panen dapat lebih merata bila dibandingkan dengan daerah-daerah kering. Hingga demikian maka masa panennya lebih panjang yaitu dari April samai Oktober. Buah kopi setelah masak akan berwarna merah, dan ini harus kita petik satu persatu dari tiap dompolnya dengan giliran petik antara 2-3 minggu.

Rendemen buah kopi, yaitu perbandingan antara berat kopi biji dan berat kopi gelondong, rendemen ini berbeda-beda menurut jenisnya:
a.      Rendemen Kopi Robusta; antara 22 samapi dengan 24 persen;
b.      Rendemen Kopi Arabika; antara 16 sampai dengan 18 persen;
c.       Rendemen Kopi Liberika; antara 10 sampai dengan 12 persen.

Pada prinsipnya pengolahan kopi ini bertujuan untuk memisahkan kopi dari dagingnya, kulit tanduk, dan kulit ari. Hingga tinggal biji kopinya. Pengolahan ini secara garis besarnya dibagi menjadi 2 cara yaitu pengolahan kering dan pengolahan basah.

Kalau diperkebunan-perkebunan besar, biasanya kopi ini diolah dengan secara basah, kecuali buah-buah inferior yang berasal dari pemetikan bubuk lelesan, racutan dan buah-buah yang masih muda. Sebaliknya kopi rakyat akan diolah secara kering.

A. Pengolahan Kering

Cara pengolahan kering atau Oost Indische Bereiding ini akan lebih sederhana dan terdiri atas pengeringan; pengupasan; dan sortasi. Pengeringan kopi gelondong dilakukan dengan jalan menjemur diatas lantai tanah ataupun semen. Untuk lebih mempercepat proses pengeringan, ada kalanya gelondong dimemarkan terlebih dahulu baru dijemur. Pengeringan dalam bentuk gelondong ini menyebabkan beberapa kerugian, yaitu:
1.      Memakan waktu lama antara 10 sampai 15 hari;
2.      Kulit ari melengket pada biji, hingga kopi menjadi kelemben;
3.      Warna lebih kekuningan;
4.      Menimbulkan fresh smell.

Kemudian setelah kopi kering baru dikupas, yaitu dipisahkan dari daging, kulit tanduk, dan kulit arinya. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menumbuk di lesung atau dengan cara buler.

Sortasi dilakukan untuk memisahkan dedek serta biji-bji yang pecah ataupun kena bubuk, hitam dan lain-lain.

Gambar 25: Penjemuran Biji Kopi
(menutup tempat penjemuran dengan plastik agar terhindar dari hujan)

B. Pengolahan Basah

Pengolahan basah atau West Indesche bereiding, dipakai di Indonesia ini semenjak kopi Robusta berkembang. Karena sebelum itu untuk jenis kopi Arabika hanyalah dipergunakan pengolahan kering.

Pengolahan basah ini memerlukan banyak air, yaitu sekitar 16-18 Liter/Kg kopi biji. Karena pengolahan justru terjadi di musim kemarau, maka masalah air sangatlah penting dalam cara pengolahan ini.

Pengolahan basah ini mengenal dua cara pula, yaitu dengan fermentasi dan tanpa fermentasi. Pengolahan dengan fermentasi ini akan menghasilkan kopi bersih dari lendir, sehingga dengan cepat dapat dicuci. Akan tetapi sebaliknya, cara fermentasi ini menyebabkan penyusutan berat kopi. Fermentasi selama 36 jam menyebabkan berat susut 2-4 persen dan ini tergantung dari temperatur. Makin tinggi temperatur (jadi makin rendah letak pabrik) makin besar pula penyusutannya.

Selama fermentasi biji kopi masih hidup, sehingga terjadi dessimilasi yang menghasilkan produk-produk yang menguap, ini yang menyebabkan penyusutan berat. Oleh karena itu kopi yang diolah dengan tanpa fermentasi mempunyai rendemen yang lebih tinggi.

Proses pengolahan basah terdiri dari beberapa tingkat pengolahan sebagai berikut:

Proses Pengolahan Basah pada Biji Kopi

1. Sortasi Kopi Gelondong

Setelah tiba di emplasemen, buah kopi akan kita pisahkan dari buah-buah yang berwarna hijau. Kemudian buah kopi yang berwarna merah akan dimasukkan dalam sifon (conische tank) untuk memisahkan:
a.      Kopi yang masak dan baik diolah secara basah
b.      Kopi yang inferior (bubuk, gabuk, kering, dan lain sebagainya) diolah secara kering.

Pemisahan ini didasarkan atas perbedaan berat jenis dengan jalan merambangnya dalam air. Hingga dengan demikian buah inferior yang mengambang akan kita pisahkan dan diolah secara kering. Buah yang bik dan tenggelam disedot masuk kedalam pulper, untuk diolah secara basah.

2. Pulping

Pulping bertujuan untuk memisahkan kopi dari pulp yang terdiri dari atas daging dan kulit buah. Juga terdapat 2 pulper, macamnya adalah disk puper; dan cylinder pulper. Akan tetapi sekarang ini praktis yang dipakai adalah cylinder pulper, yaitu Vis Pulper dan Raung Pulper (Aqua Pulper).

Raung pulper ini juga berfungsi sebagai pencuci, dari kopi yang keluar dari mesin ini tidak perlu difermentir dan dicuci lagi, karena memang sudah bersih dari lendir. Kopi yang baru dipetik haruslah di pulp pada hari itu juga, ini dilakukan agar lebih mudah dan juga loebih bersih. Lobang dalam saluran pulper harus disetel dengan seksama, agar kopi tidak terkelupas kulit tanduknya.

Ruang pulper ini memerlukan lebih banyak tenaga kalau dibandingkan dengan Vis Pulper. Oleh karena itu cocok sekali untuk kebun-kebun yang memiliki turbin air.

3. Fermentasi

Kopi yang telah di Pulp dengan Vis pulper masih diselaputi lapisan lendir. Lendir itu sendiri harus segera dihilangkan untuk mempercepat proses pengeringan. Ada beberpa cara untuk menghilangkan lendir ini, yaitu melalui fermentasi; bahan bahan kimia; air panas; dan penggosokan.

Adapun cara yang termurah dan banyak dipergunakan adalah fermentasi. Untuk inipun terdapat 2 macam fermentasi, yaitu:
a.      Fermentasi basah/ dengan direndam air;
b.      Fermentasi kering/ tanpa direndam air.

Fermentasi basah ini dilakukan dengan jalan merendam pada bak air selama 36-60 jam. Makin tinggi letak pabrik maka makin lama fermentasi. Setelah direndam 10 jam maka cairan fermentasi harus dikeluarkan melalui saluran bawah bak, kemudian nanti akan ditambah air dengan secara berangsur-angsur. Banyak air yang ditambahkn 2/3 volume kopi.

Fermentasi kering dilakukan dengan menggundukkan kopi yang keluar dari pulper dan kemudian ditutup dengan karung goni, agar fermentasi ini merata maka gundukan perlu dibolak-balik.

4. Pencucian

Setelah di fermentasi maka kopi harus dicuci bersih-bersih, dan kalau dipegang terasa kasar. Pencucian ini dapat dipergunakan dengan mesin dan dapat pula dipergunakan melalu tangan.

Kopi yang tidak difermentir di pulp Vis Pulper haruslah dicuci dengan mesin cuci. Namun kalau yang di pulp dengan Raung Pulper tidak perlu dicuci, karena mesin tersebut telah sekaligus melakukan  pulping dan pencucian.

5. Pengeringan

Setelah kopi itu dicuci maka akan mengandung air 52 sampai dengan 54 persen terhadap berat basah. Kandungan tersebut dibagi menjadi 20 persen air permukaan; dan 80 persen air dalam sel.

Tujuan dari pengeringan itu sendiri adalah untuk menurunkan kandungan air kopi dari +54 persen menjadi +10 persen. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan cara penjemuran; pengeringan mekanis; dan pengeringan kombinasi penjemuran dan mekanis.

Kalau diperkebunan-perkebunan jenis kopi Robusta ini dikeringkan dengan cara mekanis. Sedangkan untuk jenis kopi Arabika biasanya dipergunakan kombinasi antara penjemuran dan mekanis. Hal ini bertujuan supaya lebih mempercepat proses pengeringannya.

Pada kopi jenis Arabika ini penjemuran dilakukan untuk pembentukan aroma, walaupun penjemuran dilakukan lama maka jenis ini tak akan menjadi kurang, karena kulit arinya lebih mudah lepas bila dibandingkan dengan kopi jenis Robusta.

Untuk cara pengeringan melalui mekanis, dilakukan melalui penguapan dengan jalan pemanasan. Didalam proses penguapan ini dibedakan 2 stadium yaitu:
a.      Stadium Lembab
Terjadi penguapan air permukaan sehingga kandungan air turun dari 54 persen menjadi 30 persen.

b.      Stdium Higroskopis
Terjadinya penguapan air dari dalam sel. Kandungan air diturunkan dari 30 persen menjadi 10 persen. Stadium ini sangat penting karena mempengaruhi mutu dan warna kopi.

Sedangkan temperatur untuk kedua stadium tersebut dapat dilakukan dengan cara:
a.      Stadium lembab untuk fase pertama;
b.      Temperatur 100-120 derajat Celsius, hingga kandungan air mendekati 30 persen, aliran udara pengering yang besar;
c.       Stadium higroskopik fase kedua, temperatur diturunkan sehingga 70 sampai 60 derajat Celsius.

Untuk pengeringan secara mekanis ini memang terdapat beberapa type, antara lain adalah Vis Drier; Mason Drier; dan American Drying Systems. Vis Drier ini berbentuk rumah dengan lantai berlubang-lubang dan kopi dihamparkan pada lantai setelabl 8 cm. Pemanasan dilakukan dari pipa-pipa udara yang dipanaskan.

Mason drier ini berbentuk silinder berputar-putar dengan kecepatan 1-4 putaran per menit dan berdinding lubang-lubang. American Drying Systems, ADS drier berbentuk menara dan menggunakan pemanasan dari solar yang dibakar dalam burner gas. Gas hasil pembakaran ini langsung digunakan untuk pengeringan, setelah dicampur dengan udara segar.

6. Hulling

Setelah kering maka kopi dimasukkan dalam huller untuk melepaskan kopi dari kulit tanduk dan kulit ari. Untuk menghindari pecahnya biji kopi dan juga supaya kadar air kopi itu sama rata, maka baiknya kopi tersebut disimpan dulu sekitar 2 sampai 3 hari sebelum dikupas.

7. Sortasi Biji Kopi

Setelah dikupas maka kopi harus dipisahkan untuk memilih biji-biji yang baik dari kotoran yaitu sisa-sisa kulit tanduk, kulit ari, debu, dll. Juga disortir untuk memisahkan biji-biji inferior, yang pecah atau biji-biji yang sangat kecil.
Gambar 26: Proses Sortasi Biji Kopi

8. Warna

Warna kopi harus rata dan hidup serta segar. Juga tidak boleh mengandung biji berkulit ari. Warna yang dikehendaki ini tergantung dari pemasaran. Bisa saja dibuat hijau muda atau kuning kehijau-hijauan. Setelah kita mewarnai maka siaplah kopi tersebut kita lempar ke pasaran bebas.
Read More

Sunday, April 6, 2014

Cara Pembiakan Tanaman Kopi

Pembiakan dari tanaman kopi ini ada dua macam cara, yaitu cara generatif dan cara vegetatif. Cara pembiakan secara generatif dengan menggunakan persemaian, yaitu menanam biji. Cara ini sebenarnya yang paing sederhana dan tidak perlu memakai kepandaian khusus. Akan tetapi cara ini buat kopi Robusta akan kurang baik hasilnya, karena binih kopi jenis Robusta ini pada umumnya banyak mengalami segregasi. Tanaman semaian ini sering tidak seragam, baik itu pertumbuhannya maupun produktivitasnya.

Pembiakan Vegetatif:
Cara pembiakan vegetatif semakin banyak dipergunakan orang luntuk menanam kopi jenis Robusta. Untuk pembiakan vegetatif ini pun dikenal denga 2 cara, yaitu: Sambungan dan Stek.

Kalau di Indonesia kebayakan yang dipergunakan adalah cara sambungan namun sekarang juga telah mulai diperhatikan pula cara-cara stek. Sebab pembiakan dengan cara-cara stek ini mempunyai banyak keuntungan, yaitu:
1.      Tidak perlu menggunakan tenaga terlatih;
2.      Dapat dilakukan dengan secara masal;
3.      Tidak mengalami kemungkinan pengaruh buruk dari batang bawah;
4.      Berbuah 1 tahun lebih awal;
5.      Akar serabut lebih banyak;
6.      Wiwilan hanya sedikit diwaktu mudanya;
7.      Tidak ada persoalan dengan tunas palsu.

Namun disamping ada keuntungannya, juga cara stek ini mempunyai beberapa kekurangan, yang antara lain adalah:
1.      Bagi pembentukan akar diperlukan kondisi yang perlu diatur dengan lebih seksama;
2.      Akar tunggang lebih pendek.

Untuk penanaman kopi jenis Robusta dengan cara stek ini tidak boleh ditanam hanya dengan 1 jenis klon saja. Sebab Robusta adalah kopi yang penyerbukannya bersilang.Jadi paling sedikit harus ditanam 3 sampai 5 jenis klon. Namun juga tidak boleh terlalu banyak jenis klonnya, karena semakin banyak semakin besar kemungkinan kopi yang dihasilkan juga kurang seragam.

A. Pembiakan dengan Sambungan

Bagi penyambungan ini maka diperlukan batang bawah dan calon batang atas (Entres). Batang Bawah ditanam dengan jarak 20x25 cm atau 20x30cm. Untuk batang bawah ini sebaiknya dipergunakan semaian yang berasal dari klonal yang mempunyai sistem perakaran yang baik. Batang bawah ini mulai dapat disambung pada umur 10 samai 12 bulan, kalau kira-kira batang itu sendiri telah setebal pensil.

Calon batang atas (Entres) dikenal 2 macam, yaitu entres pucuk dan entres cabang. Untuk biasanya yang dipergunakan adalah entres pucuk yang berasal dari wiwilan. Sedangkan entres cabang ini berasal dari cabang primair, akan tumbuh kesamping. Ini umumnya hanya dipakai untuk keperluan rehabilitasi penanamn. Entres ini sebaiknya diambilkan dari kebun entres, sebab kalau dari entres tanaman produksi sering kurang baik.

B. Cara Menyambung

Saat yang baik untuk mengadakan penyambungan ini adalah pada waktu awal musim penghujan, ketika batang bawah sedang tumbuh dengan aktif. Kalau penyambungan dilakukan pada waktu musim penghujan, maka ini biasanya hasilnya akan kuran baik. Sebab batang bawah itu telah kurang aktif.

Kita juga mengenal dua cara penyambungan pada tanaman kopi, yaitu sambungan celah dan sambungan tempel. Akan tetapi yang sering dipergunakan adalah cara sambungan celah, karena lebih mudah dan hasilnya sama-sama memuaskan bila dengan mempergunakan sambungan tempel.

C. Sambungan Celah

Batang bawah dipotong rata dengan mempergunakan gunting stek, kemudian kita buat celah sepanang 3-4cm dengan pisau. Sedangkan entres dipotong seruas-seruas sepanjang +7cm. Daun dari cabang dipotong 1½ cm dari sumbu entres kemudian diruncingkan sepanjang 3-4cm. Entres lalu dimasukkan dalam celah-celah batang bawah dan lalu diikat dengan tali. Tebal batang bawah dan entres hendaknya dipilihkan yang sama.
Gambar 24: Contoh Gambar Entres dan Bentuk Sambungannya

D. Sambungan Tempel

Batang bawah dan entres dipotong miring, kemudian ditempelkan satu dengan lainnya. Setelah itu kita ikat dengan tali. Untuk melindungi dari kekeringan atau pun pembusukan maka biasanya akan kita gunakan lilin sambung (ent-was) atau ita tutup dengan kertas. Akan tetapi dalam praktek sehari-hari, sering kita jumpai mereka itu menutup dengan mepergunakan daun-daun, entah itu daun tanaman kopi sendiri ataupun daun pisang.

E. Pembiakan dengan Stek

Bahan stek ini biasanya dipergunakan wiwilan yang berasal dari kebun entres, sebab kalau stek yang kita pergunakan dari kebun produksi maka hasilnya kurang memuaskan. Sebab makin tua umur bahan stek maka aan makin kecil daya perakarannya.

F. Memperakarkan Stek

Stek diperakarkan pada medium yang terdiri dari campuran tanah dan pasir. Dengan perbandingan 1 banding 1 ; atau 1 bading 2, sebab makin berat jenis tanahnya makin banyak memerlukan pasir.

Tebal medium yang paling baik adalah 20cm, kemudian bawahnya kita beri lapisan kerikil untuk memperbaiki drainase dan tata udara. Sebab kalau medium terlalu basah dan tata udaranya jelek, stek akan menjadi kekeringan, kemudian busuk dan mati. Stek ditanam hingga daunnya akan menyentuh medium pada jarak antara 5x10cm.

Stek dapat juga diperakarkan dalam bak stek atau bedengan stek. Dalam bak sjtek kondisi tanaman dapat diatur dengan lebih mudah, bila dibandingkan dengan bedengan stek. Sedangkan faktor pertumbuhan yang perlu diatur adalah kelembaban udara, temperatur dan intensitas cahaya.

G. Bak Stek

Dalam bak stek ini kelembababn udara dapat diatur dengan pipa air yang berlubang-lubang, sehingga air dapat menetes dengan secara pelan pada tutup kaca yang dilapisi dengan kain. Kelembaban harus dijaga agar berkisar antara 85 sampai 90 persen.

Temperatur dan intensitas cahaya dapat diatur dengan mempergunakan naungan buatan. Temperatur rata-rata kit usahakan berkisar antara 23 sampai dengan 26 derajat Celsius. Medium harus disiram secukupnya akan tetapi jangan sekali-kali tergenang air.

H. Bedengan Stek

Bedengan stek ini biasanya dipergunakan didaerah yang agak tinggi dan mempunyai temperatur rata-rata lebih rendah. Kelembaban udara diatur dengan penyiraman air, setiap 2-3 jam pada siang hari. Sedangkan untuk temperatur dan intensitas cahaya diatur dengan naungan buatan, atau kombinasi naungan alam dan naungan buatan.

I. Pemindahan Stek

Stek telah cukup berakar dalam waktu antara 10-12 minggu. Kemudian stek ini perlu dipelihara dulu dalam pembibitan sebelum dipindahkan kepetanaman. Baiknya dalam pembibitan itu stek ditanam dalam jarak 20x20cm atau 20x25cm, atau kalau tidak dapat juga dipelihara dalam plastik ataupun keranjang. Setelah umur 8 sampai 10 bulan barulah dipindahkan kepetanaman.

J. Jadwal Pembuatan Stek

Waktu yang baik untuk pembuatan stek adalah awal dari musim penghujan, maka baiknya saja menurut jadwal umum:
1.      Bulan Oktober s/d Desember; tahap Pengakaran di bak stek
2.      Bulan Januari s/d Oktober; tahap Pemeliharaan dan Pembibitan
3.      Bulan Oktober s/d Nopember; tahap Penanaman di kebun atau petanaman.
Read More

Saturday, April 5, 2014

Pemupukan Tanaman Kopi

Kebutuhan pemupukan dalam tanaman kopi ini ditentukan oleh 2 faktor utama, keduanya tu adalah:
1.      Pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah
2.      Persediaan kandungan hara dalam tanah.

A. Pengambilan Hara

Tanaman kopi ini mengambil hara dari dalam tanah untuk pertumbuhan vegetatif dan juga untuk pertumbuhan buah. Pertumbuhan vegetatif ini sama pentingnya dengan pembuatan buah, karena buah kopi ini hanya terbentuk oleh cabang-cabang lateral yang merupakan produk pertumbuhan vegetatif.

Sedangkan pengambilan hara dari tanaman kopi ini sangat berbeda-beda dan menurut jenis kopi itu sendiri. Kebutuhan pengambilan hara oleh panen 1 ton kopi biji per hektar/tahun adalah sebagai berikut:

Tabel 2: Kebutuhan Pengambilan Hara Tanaman Kopi
Kebutuhan Pengambilan Hara Tanaman Kopi
Pengambilan tersebut belum termasuk kebutuhan untuk pertumbuhan vegetatif, yang justru lebih besar jumlahnya. Apabila kebutuhan ini juga diperhitungkan, maka hara mineral yang diambil oleh kopi jenis Robusta dari areal 1 hektar selama setahun adalah sebagai berikut:
Jumlah tersebut adalah setara dengan 672 Kg pupuk yang terdiri dari Urea, DS, dan ZK seperti yang disebutkan diatas.

B. Persediaan Hara dalam Tanah

Praktis semua wilayah kebun-kebun kopi di Jawa Tengah maupun Jawa Timur memiliki kandungan N yang rendah sekali. Disamping kekuranagn N ada juga daerah-daerah yang kekurangan P, K, atau Mg, misalnya saja daerah:
1.      Daerah pegunungan Kendeng Selatan (Jawa Timur), kekurangan NPMg
2.      Daerah Semeru Selatan dan Kawi; kekurangan NK
3.      Daerah Jawa Timur dan Ungaran Jawa Tengah; kekurangan NPK

Keadaan tanah cukup berbeda-beda, bahkan dalam satu kebun sekalipun. Maka karena itulah untuk mengetahui kebutuhan pemupukan diperlukan analisa tanah dan analisa daun, yang sedapat mungkin dilengkapi dengan percobaan lapangan.

C. Manfaat Pemupuan

1.      Perbaikan Kondisi Tanaman
Tanaman yang dipupuk secara optimal dan teratur maka akan memiliki daya tahan yang lebih besar, dengan demikian maka tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan yang ekstrim. Misalnya; kekurangan air karena musim kemarau yang terlalu panjang, temperatur tinggi atau rendah, pembuahan terlalu lebat dan sebagainya.

2.      Peningkatan Produksi dan Mutu
Dalam tahun pertama maka pemupukan akan lebih banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif. Sebab cabang-cabang menjadi lebih banyak. Walaupun dalam tahun pertama produksi belum banyak meningkat, tetapi pemupukan telah memberikan keuntungan besar, yaitu:
a.      Biji kopi menjadi lebih besar dengan mutu yang lebih baik;
b.      Rendaman atau uitivering lebih tinggi, sehingga biaya pemetikan relatif lebih murah
Efek pemupukan ini pengaruhnya terhadap produksi pada umumnya baru terjadi pada tahun  kedua setelah pemupukan.

3.      Stabilisasi Produksi
Tanaman kopi ini bersifat biennial bearing, yang artinya suatu saat akan panen tinggi dan kemudian akan panen rendah. Pada tahun panen rendah, biasanya akan menurun 40% dibandingkan dengan panen sebelumnya (panen tinggi). Apalagi kalau makin buruk kondisi tanaman, maka akan makin buruk pula penurunannya. Namun kalau tanaman yang dipupuk secara optimal, maka biasanya hanya akan mengalami penurunan sebesar 20%, hingga dengan demikian maka produksi agak bisa setabil.

D. Jenis dan Dosis Pemupukan

Pupuk itu dibagi menjadi 2 golongan, yaitu pupuk tunggal (single fertilizer) dan pupuk majemuk (compound fertilizer). Pupuk tunggal itu hanya mengandung satu jenis unsur hara, yaitu N,P, atau K. Sedangkan kalau pupuk majemuk mengandung lebih dari satu unsur hara dalam berbagai kombinasi.

Bila saja mengandung NK, NP, NPK, dan NPKMg, dan lain sebagainya. Pupuk majemuk ini mempunyai beberapa kelebihan kalau dibandingkan dengan pupuk tunggal.

Akan tetapi sayangnya sekarang kebanyakan pupuk majemuk yang beredar di pasaran bebas tidaklah sesuai dengan pupuk untuk jenis tanaman kopi. Lebih-lebih pada daerah-daerah tertentu. Misalkan saja untuk jenis tanah yang hanya memerlukan N, pemberian P atau K baik secara sendiri-sendiri atau pun dikombinasikan dengan N tetap saja tidak akan memberi efek menguntungkan. Sebab pemberian pupuk yang salah itu bukannya saja tidak efektif, akan tetapi sering kali juga bahkan menurunkan produksi. Hal itu karena tanaman kopi sendiri kurang mempunyai daya serap selektif pada pemberian pupuk yang tidak seimbang.

Disamping itu, semua dosis juga sangat penting. Dosis yang diberikan kalau terlalu kecil dan kurang, maka sama saja dengan tidak akan memberikan keuntungan. Demikian juga kalau terlalu tinggi memberikan dosis harus pula didasarkan pada asil analisa tanah, daun dan juga harus dilakukan percobaan-percobaan terlebih dulu baik atau tidak hasilnya.

Berikut tabel dosis sementara yang lazimnya dipakai untuk pemupukan kopi, untuk dosis  per pohon tiap tahunnya:

Tabel 3: Dosis Pemupukan Tanaman Kopi (Pohon Per Tahun)



Dosis Pemupukan Tanaman Kopi (Pohon Per Tahun)

E. Saat Pemupukan

Saat pemupukan ini haruslah kita sesuaikan dengan kebutuhan tanaman, dan juga iklim. Biasanya yang lazim dilakukan sebagai berikut:

Waktu dan Dosis Pemupukan:





F. Efisiensi Pemupukan

Pemupukan hanya bisa menguntungkan dan efektif bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
PENGATURAN NAUNGAN:
Naungan diatas kopi itu harus seminim mungkin dan sebaliknya naungan diatas tanah harus semaksimal mungkin. Sebab pemupukan itu tidak akan banyak berpengaruh terhadap kenaikan produksi kalau keadaan gelap.

Namun harus pula diingat kalau pengurangan naungan ini haruslah dilakukan dengan cara bertahap. Tanaman yang baru saja dipupuk, jangan dulu terlalu banyak dikurangi naungannya. Dengan demikian maka tanaman tersebut akan lebih banyak memperoleh kesempatan memperbaiki kondisi vegetatifnya.

Hingga dengan demikian maka produksi tahun berikutnya akan meningkat. Juga akan memiliki cadangan-cadangan hara untuk mencegah terjadinya overbearing dan die back.

PEMANGKASAN:
Pupuk hendaknya baru diberikan setelah tanaman dipangkas. Hal ini untuk menghindarkan supaya sebagian hara tak terbuang bersama pemangkasan wiwilan dan cabang-cabang sewaktu dipangkas. Tanaman yang dipupuk maka akan mengeluarkan wiwilan lebih banyak. Pupuk ini hanya akan memberi efek maksimal apabila wiwilan dipangkas sekecil mungkin. Maksudnya semuda mungkin.

PERLAKUAN TANAH:
Teras ada tanah-tanah yang letaknya miring haruslah kita pelihara. Dengan demikian maka pupuk tidak mengalir terbuang karena erosi. Juga pengairan harus kita perbaiki. Jangan sampai ada rumpai disekitar pohon paling sedikit antara 1-3 bulan sejak pemberian pupuk. Perlu diketahui kalau pupuk N ini sebulan saja telah habis terserap. Akan tetapi untuk pupuk K dan P akan habis dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan.

G. Cara Pemberian Pupuk

Pupuk akan kita berikan pada lingkar piringan pohon. Tentu saja setelah kita pacul dengan secara pelan dan kita buat parit. Kalau kita mempergunakan pupuk urea hendaknya dibenamkan ditanah supaya tidak hilang menguap. Kalau pupuk itu menguap maka akan sia-sia kita memberikannya, sebab tak akan memberikan hasil keuntungan buat kita.
Read More